
Dalam dunia tsawauf seringkali dikenal istilah thoriqoh, yang berarti
jalan, yakni jalan untuk mencapai keridho'an Allah SWT. Dengan
pengertian ini bisa digambarkan, adanya kemungkinan banyak jalan,
sehingga sebagian sufi menyatakan aturuk biadadi anfasill makhluk, yang
artinya jalan menuju Allah SWT itu sebanyak hitungan nafas makhluk,
aneka ragam dan bermacam-macam. Kendati demikian orang yang hendak
menempuh jalan tersebut haruslah berhati-hati, karena dinyatakan pula "
faminha mardudah waminha maqbulah" yang artinya dari sekian banyak
jalan, ada yang sah dan adapula yang tiadak sah, ada yang diterima
adapula yang tidak diterima. Yang dalam istilah ahli thoriqoh disebut
mu'tabaroh wa ghoiru mu'tabaroh.
Awalnya thoriqoh dari Nabi yang menerima wahyu dari Allah SWT
melalui malaikat Jibril AS. Jadi semua thoriqoh yang mu'tabaroh itu
sanadnya (silsilahnya) muttashil (bersambung) sampai kepada nabi
Muhammad SAW. Kalau suatu thoriqoh sanadnya tidak sampai hingga ke Nabi
Muhammad SAW, maka thoriqoh tersebut tidak sah (ghoiru mu'tabaroh).
Barometer lain untuk menentukan ke-mu'tabaroh-an suatu thoriqoh adalah
pelaksanaan syari'at. Dalam semua thoriqoh syari'at dilaksanakan secara
benar dan ketat.
Thoriqoh adalah jalan atau cara atau metode.
Semua ibadah ada cara atau metodenya; sholat, puasa, zakat, haji semuanya ada metodenya dan cara-cara itu dinamakan Thoriqoh.
(Sumber: Pengajian Minhajul 'abidin, 10 R. AKhir 1422 H)
DASAR THORIQOH
“Dan jika manusia tetap pada suatu Thoriqoh, pasti mereka akan mendapatkan air yang menyegarkan”. (Qs: Al Jin 16)
Berdasarkan Qs: Al Jin 16, ajaran Thoriqoh adalah ajaran agama
Islam, bukan ajaran Ulama’ Salaf (Ulama pertengahan setelah para
sahabat), sebagaimana anggapan sebagian kecil ummat Islam. Ajaran
Thoriqoh itu dititikberakan kepada ajaran Dzikrulloh. Masalah
Dzikrulloh telah di contohkan atau diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad
SAW. Tersebut di dalam al-Qur’an :
“
Sungguh ada bagi kamu di dalam diri Rosul itu contoh yang
bagus, bagi siapa saja yang ingin bertemu Alloh dan hari akhir, maka
Dzikirlah kepada Alloh yang sebanyak-banyak- nya”. (Qs: Al-Ahzab : 21)
Ajaran Thoriqoh / Dzikrulloh ini adalah ajaran yang
bersifat khusus, artinya tidak akan diberikan / diajarkan kepada siapa
saja, selama orang itu tidak memintanya. Oleh sebab itu untuk
menerima ajaran Thoriqoh/Dzikrulloh ini harus melalui Bai’at, tersebut
di dalam al-Qur’an surat:
“Sesungguhnya orang-orang yang BAIAT kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka BAIAT kepada Alloh” (Qs: Al Fath : 10)
Diantara thoriqoh mu'tabaroh adalah sebagai berikut:
THORIQOH SYATARIYAH
Thoriqoh Syatariah, pertama kali digagas oleh Abdullah Syathar (w.
1429 M). thoriqoh Syatariyah berkembang luas ke tanah suci (Mekah dan
Madinah) dibawa oleh Syekh Ahmad Al Qusyasi (w. 1661/1082) dan Syekh
Ibrahim Al Kurani (w. 1969/1101). Dan kemudian dieruskan oeh Syekh 'Abd
Al Rauf Al Sinkili ke nusantara, kemudian dikembangkan oleh muridnya
Syekh Burhan Al Din ke Minangkabau.
Thoriqoh Syatariyah sesudah Syekh Burhan Al Din, berkembang menjadi 4
keompok yakni: pertama silsialh yang diterima dari Imam Maulana.
Kedua, silsilah dari Tuan Kuning Syahril Lutan Tanjung-Medan Ulakan.
Ketiga, silsilah dari Tuanku Ali Bakri di Sikabu Ulakan. Keempat,
silsilah oleh Tuanku Kuning Zubir yang ditulis dalam kitabnya yang
berjudul Syifa' Al Qulub. Thoriqoh ini berkembang di daerah Minangkabau
dan sekitarnya.
Untuk mendukung kelembagaanthoriqoh, kaum syatariyah membuat lembaga
formal berupa oraganisasi sosia keagamaan Jama'ah Syatariyah Sumatera
Barat, dengan cabang dan ranting-ranting di seluruh wilayah
Minangkabau, bahkan di Provinsi tetangga Riau dan Jambi. Bukti kuat dan
kokohnya kelembagaan Thoriqoh Syatariyah dapat ditemukan wujudnya pada
kegiataan ziarah bersama ke makam Syekh Burhan Al Din Ulakan.
THORIQOH NAQSYABANDIYAH
Peletak dasar Thoriqoh Naqsyabandiyah ini adalah Al-Arif Billah Asy
Syaikh Muhammad bin Muhammad Bahauddin Syah Naqsyabandi Al-Uwaisi Al-
Bukhori radliallahu anhu (717-865 H) .
Dijelaskan oleh Syaikh Abdul Majid bin Muhammad Al Khoniy dalam
bukunya Al-Hadaiq Al-Wardiyyah bahwa thoriqoh Naqsabandiyyah ini adalah
thoriqohnya para sahabat yang mulia radliallahu anhum sesuai aslinya,
tidak menambah dan tidak mengurangi. Ini merupakan untaian ungkapan
dari langgengnya (terus menerus) ibadah lahir batin dengan kesempurnaan
mengikuti sunnah yang utama dan ‘azimah yang agung serta kesempurnaan
dalam menjauhi bid’ah dan rukhshah dalam segala keadaan gerak dan diam,
serta langgengnya rasa khudlur bersama Allah SWT. mengikuti Nabi SAW.
dengan segala yang beliau sabdakan dan memperbanyak dzikir qalbiy.
Dzikirnya para guru Naqsyabandiyah adalah Qalbiyah (menggunakan
hati). Dengan itu mereka bertujuan hanya kepada Allah SWT. semata
dengan tanpa riya’, dan mereka tidak mengatakan suatu perkataan dan
tidak membaca suatu wirid kecuali dengan dalil atau sanad dari kitab
Allah SWT. atau sunnah Nabi Muhammad SAW.
Asy-Syaikh Musthofa bin Abu Bakar Ghiyasuddin An-Naqsyabandiy
menyatakan dalam risalahnya Ath Thoriqoh An-Naqsabandiyah Thoriqoh
Muhammadiyah bahwa thoriqoh ini memiliki tiga marhalah;
a. Hendaklah anggota badan kita berhias dengan dhohirnya syari’ah Muhammadiyah.
b. Hendaklah jiwa- jiwa kita bersih dari nafsu-nafsu yang hina, yaitu
hasad, thama’, riya, nifaq, dan ‘ujub pada diri sendiri. Karena hal
itu merupakan sifat yang paling buruk dan karenanya iblis mendapatkan
laknat.
c. Berteman dengan shodikin (orang-orang yang berhati jujur)
Thoriqoh Naqsyabandiyah ini mempunyai banyak cabang aliran thoriqoh di Mesir, Turki, juga Indonesia.
Sementara Thoriqoh Naqsyabandiyah masuk ke nusantara dan Minangkabau
pada tahun 1850. thoriqoh Naqsyabandiyah sudah masuk ke Minangkabau
sejak abad ke 17, pintu masuknya melalui daerah pesisir Pariaman,
kemudian terus ke Agamdan Limapuluh kota. Thoriqoh Naqsyabandiyah
diperkenalkan ke wilayah ini pada paruh abad ke 177 oleh Jamal Al Din,
seorang Minangkabau yang mula-mula belajar di Pasai sebelum dia
melanjutkan ke Bayt Al Faqih, Aden, Haramain, Mesir dan India.
Naqsyabandiyah merupakan salah satu thoriqoh sufi yang paling luas
penyebarannya dan terdapat banyak wilayah Asia Muslim serta Turki,
Bosnia Herzegovina dan wilayah Volga Ural.
Bermula di Bukhara pada akhir abda ke 14, Naqsyabandiyah mulai
menyebar ke daerah-daerah tentangga dunia muslim dalam kurun waktu 100
tahun. Perluasannya mendapat dorongan baru dengan muncunya cabang
Mujaddidiyah , dinamai menurut SyekhAhmad Sirhindi Mujaddidi Afi Tsani
(pembaru millennium kedua w. 19240. pada akhir abad ke 18 nama ini
hampir sinonim dengan thoriqoh tersebut di seluruh Asia Selatan,
wilayah Utsmaniyah dan sebagian besar Asia Tengah.
Cirri yang menonjol dari thoriqoh Naqsyabandiyah adalah diikutinya
syari'at secara ketat, keseriusan dalam beribadah menyebabkan penolakan
terhadap musik dan tari, serta lebih mengutamakan berdzikir dalam hati
(Dzikir sirri).
Penyebaran thoriqoh Naqsyabandiyah Khalidiyah ditunjang oleh
ulama-ulama Minangkabau yang menuntut ilmu di Mekah dan Madinah, mereka
mendapat bai'at dari Syekh Jabal Qubays di mekah dan Syekh Muhammad
Ridwan di Madinah. Misalnya, Syekh Abdurrahman di Batu
Hampar-Payuakumbuh (w. 1899 M), Syekh Ibrahim Kumpulan Lubuk Sikaping,
Syekh Khatib Ali Padang (w. 1936) dan Syekh Muhammad Sa'd Bonjol.
Merekea adalah uama besar dan berpengarauh pada zamannya serta
mempunyai anak murid mencapai ratusan ribu orang yang kemudian turut
menyebarkan thoriqoh ini ke daerah asal mereka masing-masing.
Di Jawa Tengah thoriqoh Naqsyabandiyah khalidiyah disebarkan oleh
KH. Abdul Hadi Girikusumo Mranggen yang kemudian menyebarkan ke
Popongan-Klate, KH. Arwani Amin Kudus, KH. Abdullah Salam Kajen,
Margoyoso-Pati, KH. Hafidh Rembang. Dari tangan mereka yang penuh
berkah, pengikut toriqoh ini semakin berkembang menjadi ratusan ribu
orang jemaah.
Ajaran dasar thoriqoh Naqsyabandiyah pada umumnya mengacu pada 4
aspek pokok, yaitu: sayri'at, Thariqat, Hakikat dan ma'rifat. Ajaran
thoriqoh Naqsyabandiyah ini pada prinsipnya adalah cara-cara atau jalan
yang harus dilakukan oleh orang yang ingin merasakan nikmatnya dekat
dengan Allah SWT. Ajaran yang nampak ke permukaan dan memiliki tata
aturan adalah khalwat atau suluk. Khalwat adalah mengasingkan diri dari
keramaian guna melakukan dzikir dibawah bimbingan seorang Syekh
(mursyid) atau khalifahnya selama 10 hari atau 20 hari dan sempurnanya
adalah 40 hari.
Tata cara khalwat ditentukan oleh syekh antara lain: tidak boleh
makan daging, ini berlaku setelah melewati masa suluk selama 20 hari.
Juga dilarang berhubungan suami-istri, makan dan minum juga diatur
sedemikian rupa. Waktu dan semua pikiran diarahkan untuk berpikir yang
telah ditentukan oleh mursyidnya.
THORIQOH AHMADIYAH
Thoriqoh Ahmadiyah didirikan oleh Ahmad ibn Aly' (Al Husainy A
Badawy). Diantara nama-nama gelaran yang telah diberikan kepada beliau
adalah: Syihabuddin, AlAqthab, Abu Al Fityah, Syaikh Al A'rab dan Al
Quthab An Nabawy. Malah Asy Syaikh Ahmad Al Badawy telah diberikan nama
gelar yang banyak, sampai 29 nama, diantaranya: Al Gautha, Al Kabir,
Al Quthab, Al Syahrir, Shahibul Barokah wal karomah. Beliau adalah
ulama dari golongan dzuriyatur Rasulullah SAW, melalui Sayyidina Al
Husain. Sholawat badawiyah sughro dan kubro yang amat dikenal
masyarakat Indonesia, dinisbatkan kepada beliau, akan tetapi thoriqoh
bdawiyah sendiri tidak berkembang secara luas di Indonesia, khusunya di
daerah Jawa.
THORIQOH SYADZALIYAH
Abul Hasan Ali Asy Syadzili, merupakan tokoh pengagas thoriqoh
Syadzaliyah yang tidak meninggalkan karya tulis dalam bidang tasawuf,
begitu juga dengan muridnya Abul Abbas Al Mursi, kecuali hanya ajaran
lisan tasawuf, do'a dan hizib. Ketika ditanya tentang hal itu, ia
menegaskan: "karyaku adalah murid-muridku". Syekh Syadzili memeiliki
murid yang amat banyak dan kebanyakan dari mereka adalah dari golongan
ulama-ulama masyhur pada zamannya dan bahkan dikenal dan dibaca karya
tulisnya hingga saat ini.
Ibnu Atha'illlah As Sukandari adalah orang pertama yang menghimpun
ajaran-ajaran, pesan-pesan, do'a-do'a dan biografi keduanya, sehingga
kasanah thoriqoh Syadziliyah tetap terpelihara. Ibn Atha'illah juga
orang yang pertama kali menyusunkarya paripurna tentang aturan-aturan
thoriqoh Syadziliyah, pokok-pokoknya, prinsip-prinsipnya, yang menjandi
referensi angkatan selanjutnya.
Sebagai ajaran thoriqoh ini dipengaruhi oleh Al Ghazali dan Al
Maliki. Salah satu pesan beliau kepada murid-muridnya: "jika kalian
mengajukan suatu permohonan kepada Allah, maka sampaikan melalui
(wasilah) Abu Hamid Al Ghazali". Perkataan lainya adalah: "kitab ihya'
ulumudin, karya Al Imam Ghazali mewarisi anda ilmu. Sementara Qut Al
Qulub, karya Al Imam Maliki mewarisi anda cahay". Selain kedua kitab
tersebut, Al muhasibi, Khatam Al Auiya', karya Al Imam Tirmidzi, Al
Mawaqif wa Al Mukhatabah karya An Niffari, Asy Syifa karya Qadhi' Iyad,
Ar Risalah karya Al Qusyairi, Al Muharrar Al Wajiz karya Ibn
Atha'illah.
Thoriqoh Sydzaliyah berkembang pesat di Jawa, tercatat di Ponpes
Mangkuyudan-Solo, Kyai Umar, Simbah Kyai Dalhar Watucongol, Simbah Kyai
Abdul Malik Kedungparo-Purwokerto, KH. Abdul Jalil Tulung Agung, KH.
Habib Luthfi Al Yahya Pekalongan, Simbah Kyai M. Idaris
Kacangan-Boyolali adalah para pemuka Syadzaliayah yang telah memberikan
bai'at kepada ratusan ribu bahkan jutaan murid thoriqoh Syadzaliyah.
THORIQOH QODHIRIYAH
Thoriqoh Qodhiriyah dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir Al Jilany
(wafat 561 H / 1166 M) yang bernama lengkap Muhy Al Din Abu Muhammad
Abdul Qodir ibn Shalih Zango Dost Al Jilany, lahir di Jilan 470 H / 1077
M dan wafat di Baghdad pada tahun 561 H / 1166 M. dalam usia 8 tahun
beiau sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H / 1095 M.
Riwayat hidup dan akhlaq (manaqib) Syekh Abdul Qodir Al Jilany dikenal
luas oleh masyarakat Indonesia khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur
dan dibaca dalam acara-acara tertentu guna tabaruk dan tawassul kepada
Syekh Abdul Qodir Al Jilany.
Thoriqoh Qodhiriyah terus berkembang dan berpusat di Iraq dan Syiria
yang diikuti oleh jutaan umat yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir,
India, Afrika dan Asia. Namun meski sudah berkembang sejak abad ke 13
thoriqoh ini baru terkena di dunia pada abad ke 15 M. Di India misalnya
baru berkembang setelah Muhammad Ghaws (w. 1517 M) juga mengaku
keturunan Syekh Abdul Qodir Al Jilany. Di Turki oleh Ismail Rumi (w.
1041 H/1613M) yang diberi gelar mursyid kedua. Sedangkan di Mekah,
thoriqoh Qodhiriyah sudah berdiri sejak tahun 1180H/1669 M.
Thoriqoh Qodhiriyah ini dikenal luwes, yaitu bila murid sudah
mencapai derajat Syekh, maka murid tidak mempunyai keharusan untuk
terus mengikuti thoriqoh gurunya. Bahkan dia berhak melakukan
modifikasi thoriqoh yang lain ke dalam thoriqohna. Hal itu seperti
tampak dalam ungkapan Syekh Abdul Qodir Al Jilany sendiri: " bahwa
murid yang sudah mencapai derajat gurunya, maka dia jadi mandiri
sebagai Syekh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya".
Seperti halnya thoriqoh di Timur Tengah, sejarah thoriqoh Qodhiriyah
di Indonesia juga berasal dari Mekah. Thoriqoh Qodhiriyah menyebar ke
Indaonesia pada abad ke 16, khusunya di daerah Jawa. Seperti di
pesantren Pegentongan Bogor-Jawa Barat, Mranggen Jawa Tengah, Rejoso
Jombang-Jawa Timur. Dan pesantren Tebu Ireng Jombang-Jawa Timur. Syekh
Khatib Sambas yang bermukim di Mekah, merupakan ulama yang paling
berjasa dalam penyebaran thoriqoh Qodhiriyah. Murid-murid Syekh Sambas
berasal dari Jawa dan Madura, setelah pulang ke Indonesia beliau menjadi
penyebar thoriqoh Qodhiriyah.
Di Jawa Tengah thoriqoh Qodhiriyah wan Naqsyabandiiyah muncul dan
berkembang antara lain dari Mbah Ibrahim Brumbung, Mranggen. Dari KH.
Muslih pendiri Ponpes Futuhiyah Mranggen. Dari Kyai Muslih ini lahir
murid-murid thoriqoh yang banyak. Dan dari tangan mereka berkembang
menjadi ratusan pengikut. Demikian pula halnya Simbah Kyai Siradj Solo
yang mengembangkan thoriqoh ini ke berbagai tempat melalui anak murid
beliau yang tersebar ke pelosok Jawa Tengah hingga mencapai puluhan
ribu pengikut.
Sementara di Jawa Timur thoriqoh ini dikembangkan oleh KH. Musta'in
Romli Rejoso Jombang dan Simbah Kyai Ustman Al Ishaqi yang kemudian
diteruskan oleh putra beliau KH. Ahmad Asrori yang juga memiliki ribuan
murid. Di Jawa Barat tepatnya di Ponpes Suryalay, Tasikmalaya juga
turut andil membesarkan thoriqoh ini sejak mulai zaman Abah Sepuh
hingga Abah Anom dan murid-muridnya yang tersebar di berbagai penjuru
Jawa Barat.
THORIQOH ALAWIYAH
Thoriqoh Alawiyah berbeda dengan thoriqoh-thoriqoh sufiyah pada
umumnya. Perbedaan itu terletak pada prakteknya yang tidak menekankan
segi riyadhoh (olah ruhani) yang berat, melainkan lebih menekankan pada
amal, akhlaq, serta beberapa wirid yang ringan. Sehingga wirid dan
dzikir tersebut dapat dilakukan oleh siapapun meskipun tanpa dibimbing
oleh seorang mursyid.
Ada dua wirid yang diajarkan dalam thoriqoh Alawiyah, yakni: ratib
Al Lathif dan ratib AL Haddad serta beberapa ratib lainnya seperti
ratib Alaydrus. Juga dapat dikatakan bahwa thoriqon ini adalah jalan
tengah antara thoriqoh Syadziliyah dan thoriqoh Ghazaliyah.
Thoriqoh ini berasal dari Hadhramaut, Yaman Selatan dan tersebar
hingga Afrika, India, dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia. Thoriqoh
ini didirikan oleh Imam Ahmad bin Isa Al Muhajir, seorang tokoh sufi
terkemuka dari Hadhramaut. Al Imam Al faqih Al Muqodam Muhammad bin Ali
Ba'alawi juga merupakan tokoh kunci dalam thoriqoh ini. Dalam
perkembangannya kemudian, thoriqoh ini juga disebut thoriqoh Haddadiyah
yang dinisbatkan kepada Al Habib Umar bin Abdullah Al Haddad,
Attasiyah yang dinisbatkan kepada Al Habib Umar bin Abdurrahman Al
Attas, disebut juga thoriqoh Ydrusiyah yang dinisbatkan kepada Habib
Abdulah bin Abi Bakar Al Aydrus, selaku generasi penerus. Sementara
nama "Alawiyah" berasal dari Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Al
Muhajjir.
Athoriqoh Alawiyah secara umu adalah thoriqoh yang dikaitkan dengan
kaum alawiyyin atau lebih dikenal sebagai sa'adah atau kaum Sayyid,
keturunan Nabi Muhammad SAW yang merupakan lapisan paling atas dalam
strata masyrakat Hadhrami. Karena itu, pada masa-masa awal thoriqoh ini
didirikan, pengikut thoriqoh ini kebanyakan dari kaum sayyid di
Hadhramaut. Dikenal pula sebagai thoriqotul abak wal ajdad, karena mata
rantai silsilah yang turun temurun dari kakek ke ayah dan dilanjutkan
kepada anak-anak mereka dan setelah itu diikuti oleh berbagai golongan
masyarakat muslim lain dan non Hadhrami.
Di Purworejo dan sekitarnya thoriqoh ini berkembang pesat, diikuti
bukan hanya oleh para saadah melainkan juga masyarakat biasa. Sayyid
Dahlan Baabud tercatat pengembang athoriqoh ini yang sekarang dianjutkan
oleh anak cucu beliau.
THORIQOH KHALWATIYAH
Umumnya nama sebuah thoriqoh diambil dari nama sang pendiri thoriqoh
tersebut, seperti Qodhiriyah dari Syekh Abdul Qodir Al Jilany atau
Naqsyabandiyah dari Syekh Bahaudin Naqsyabandi, tapi athoriqoh
khawatiyah justru diambi dari kata "khalwat" yang maknanya menyendiri
untuk merenung. Diambilnya nama ini dikarenakan seringnya Syekh
Muhammad Al Khalwati (w. 717H), pendiri thoriqoh ini melakukan khalwat
di tempat-tempat yang sepi. Secara "nasabiyah", thoriqoh ini merupakan
cabang dari thoriqoh Az Zahidiyah, cabang dari Al Abhariyah dan cabang
dari As Suhrawardiyah yang didirikan oleh Syekh Syihabuddin Abi Hafs
Umar As Suhrawardi Al Baghdadi (539-632 H).
Thoriqoh Khalwatiyah berkembang secara luas di Mesir, dibawa oleh
Musthafa Al Bakri, seorang penyair sufi asal Damaskus-Syiria. Ia
mengambil thoriqoh tersebut dari gurunya Syekh Abdul Latif bin Syekh
Husamuddin Al Halabi. Karena pesatna perkembangan thoriqoh ini di
Mesir, tak heran jika Musthafa Al Bakri dianggap sebagai pendiri
thoriqoh ini oleh para pengikutnya. Karena selain aktif menyebarkan
ajaran Khalwatiyah ia juga banyak melahirkan karya sastra sufistik.
Diantara karyanya yang terkenal adalah Tasliyat Al Ahzan (Pelipur
Duka).
THORIQOH SYATTARIYAH
Thoriqoh Syattariyah adalah aliran thoriqoh yang pertama kali muncul
di India pada abad ke 15, thoriqoh ini dinisbatkan kepada tokoh yang
mempopulerkan dan berjasa mengembangkannya, Syekh Abdulah Asy Syattar.
Awalnya thoriqoh ini lebih dikenal di Iran dan Transoksania dengan nama
Isyqiyah. Sedangkan di wilayah Turki Utsmani, thoriqoh ini disebut
Bistamiyah. Kedua nama tersebut diturunkan dari nama Abu Yasid Al Isyqi,
yang dianggap sebagai tokoh utamanya. Thoriqoh Syattariyah tidak
menganggap dirinya sebagai cabang dari persatuan sufi mana pun. Thoriqoh
ini dianggap sebagai suatu thoriqoh yang memiliki karakteristik
tersendiri dalam keyakinan dan prakteknya.
Perkembangan thoriqoh mistik thoriqoh ini ditujukan untuk
mengembangkan suatu pandangan yang membangkitkan kesadaran akan Allah
SWT di dalam hati, tetapi tidak kharus melalui tahap fana'. Pengikut
thoriqoh Syattariyah percaya bahwa jalan menuju Allah SWT itu sebanyak
gerak nafas makhluk. Tetapi jalan paling utama menurut thoriqoh ini
adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Akhyar, Abra dan Syattar. Seorang
salik sebelum sampai pada tingkatan Syattar, terebih dulu harus
mencapai tingkatan Akhyar, (orang-orang yang terpilih) dan Abrar
(orang-orang yang terbaik) serta menguasai rahasia-rahasia dzikir.
Untuk itu ada sepuluh aturan yang harus ditaati untuk mencapai tujuan
thoriqoh ini, yakni: taubat, zuhud, tawakal, qana'ah, uzlah, muraqabah,
sabar, ridha, dzikir dan musyahadah.
THORIQOH TIJANIYAH
Thoriqoh Tijaniyah didirikan oleh Abdul Abbas Ahmad bin Muhammad bin
Al Mukhtar At Tijani (1732-1815). Salah seorang tokoh dari gerakan
"neosufisme". Ciri dari gerakan ini adalah karena penolakannya terhadap
sisi eksatik dan metafisis sufisme dan lebih menyukai pengalaman
secara ketat ketentuan-ketentuan syari'at dan berupaya sekuat tenaga
untuk menyatu dengan ruh Nabi Muhammad SAW sebagi ganti untuk menyatu
dengan Allah SWT.
At Tijani dilahirkan pada tahun 1150/1737 di 'Ain Madi, bagian
selatan Aljazair. Sejak umur 17 tahun dia sudah dapat menghafa Al
Qur'an dan giat mempelajari ilmu-ilmu ke-Islaman lainnya, sehingga pada
usianya yang masih muda dia sudah menjadi guru. Dia mulai bergaul
dengan para sufi pada usia 21 tahun. Pada tahun 1176, dia melanjutkan
belajar ke Abyad untuk beberapa tahun. Setelah itu dia kembali ke tanah
kelahirannya. Pada tahun 1181, dia meneruskan pengembaraan
intelektualnya ke Tilimsan selama 5 tahun.
Di Indonesia, Tijaniyah ditentang keras oleh ahlith thoriqoh lain.
Gugatan keras dari kalangan ulama thoriqoh itu dipicu oleh pernyataan
bahwa pengikut thoriqoh Tijaniyah beserta keturunannya hingga 7
generasi akan diperlakukan secara khusus di hari kiamat dan bahwa pahal
yang diperoleh dari pembacaan Sholawat Fatih sama dengan membaca
seuruh Al Qur'an 1000x. Lebih dari itu, para pengikut thoriqoh
Tijaniyah diminta untuk melepaskan afiliasinya dengan para guru
thoriqoh lainnya.
Meski demikian, thoriqoh ini masih terus berkembang, utamanya di
Buntet-Cirebon dan seputar Garut-Jawa Barat dan Jatibarang-Brebes, Syekh
Ali Basalamah dan kemudian dilanjutkan oleh putranya Syekh Muhammad
Basalamah, adalah muqaddam Tijaniyah di Jatibarang, yang pengajian
rutinnya diikuti oleh puluhan ribu jemaah. Demikian pula Madura dan
ujung Timur Pulau Jawa, tercatat juga sebagai pusat peredarannya.
Penentangan terhadap thoriqoh Tijaniyah mereda setelah Jam'iyah
Ahlith Thoriqoh An Nahdliyah menetapkan keputusan bahwa thoriqoh
Tijaniyah bukanlah thoriqoh yang sesat. Karena amalan-amalannya sesuai
dengan syari'at Islam. Keputusan itu diambil seteleah para ulama ahli
thoriqoh memeriksa wirid dan wadzifah thoriqoh ini.
THORIQOH SAMANIYAH
Thoriqoh Samaniyah didirikan oleh Syekh Muhammad Samman yang bernama
asli Muhammad bin Abd al Karim Al Samman Al Madani Al Qadiri Al
Quraisyi dan lebih dikenal panggilan Samman. Beliau lahir di Madinah
1132 H/1718MM dan berasal dari keluarga quraisy. Semula beliau belajar
thoriqoh Khalwatiyah di Damaskus, lama kelamaan beliau mulai membuka
pengajian yang berisi tehnik dzikir, wirid dan ajaran teosofi lainnya.
Ia menyusun cara pendekatan diri dengan Allah SWT yang akhirnya disebut
thoriqoh samaniyah. Sehingga ada yang mengatakan bahwa thoriqoh
Samaniyah adalah cabang dari thoriqoh Khalwatiyah.
Di Indonesia, thoriqoh ini berkembang di daerah Sumatera, Kalimantan
dan Jawa. Samaniyah masuk ke Indonesia pada penghujung abad 18 yang
banyak mendapatkan pengikut Karena popularitas Imam Samman. Sehingga
manaqib Syekh Samman juga sering dibaca berikut dzikir ratib Samman
yang dibaca dengan gerakan tertentu. Di Palembang misalnya, ada 3 tokoh
ulama thoriqoh yang pernah berguru langsung kepada Syekh Samman,
mereka adalah: Syekh Abd Shamad, Syekh Muhammad Muhyiddin bin Syekh
Syihabuddin dan Syekh Kemas Muhammad bin Ahmad. Di aceh juga terkenal
apa yang disebut ratib Samman yang selalu dibaca sebagai dzikir.
Demikianlah sekilas sejarah Adanya Tasyawuf Di indonesia tentu saja
bahasan ini sangat kurang lengkap dan tentunnya pihak yang berkompeten
jauh lebih mengerti tatacara dan pelaksanaannya.
Semoga catatan singkat ini sedkit memberikan bahan pengetahuan dasar
tentang Thoriqoh atau tasyawuf atau lebih spesifik adalah jalan Sufi.
Salam Ukhuwah